<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Food Safety-Quality &#187; FSQ Articles</title>
	<atom:link href="http://foodsafety-quality.com/category/fsq-articles/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://foodsafety-quality.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Nov 2011 08:39:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Perkembangan Sistem Manajemen Keamanan Pangan</title>
		<link>http://foodsafety-quality.com/fsq-articles/perkembangan-sistem-manajemen-keamanan-pangan.html</link>
		<comments>http://foodsafety-quality.com/fsq-articles/perkembangan-sistem-manajemen-keamanan-pangan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 07:26:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>D.R. Tirtasujana</dc:creator>
				<category><![CDATA[FSQ Articles]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://foodsafety-quality.com/?p=757</guid>
		<description><![CDATA[Adanya sekian banyak standar sistem manajemen keamanan pangan di dunia tentunya bisa menimbulkan kebingungan tersendiri bagi industri yang akan menerapkan sebuah sistem manajemen keamanan pangan.

Lalu bagaimana sebuah perusahan menentukan standar yang tepat untuk dijadikan acuan sistemnya?  Apakah harus diterapkan semua?  Apa yang menjadi kriteria pemilihan sebuah standar sistem manajemen untuk diterapkan?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: xx-small;"> <em> Food Safety-Quality Discussion Series </em><br />
Oleh <a title="D.R. Tirtasujana" href="mailto:rizki@foodsafety-quality.com">D.R. Tirtasujana</a> </span><br />
<strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apakah Sistem Manajemen Keamanan Pangan Memang Dibutuhkan?</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Siapa yang tidak pernah mendengar keracunan atau kontaminasi makanan?  Sampai saat tulisan ini dibuat, masih banyak kejadian yang terkait dengan sakit yang timbul akibat makanan yang terkontaminasi.  Data surveilans KLB Keracunan Pangan tahun 2010 menunjukkan terdapat 163 kasus keracunan pangan yang terjadi.</p>
<p><span id="more-757"></span></p>
<p>Untuk itu, pencegahan selalu merupakan cara yang baik untuk meminimalisasi resiko timbulnya kasus semacam ini.  Dan sistem manajemen keamanan pangan adalah perangkat (<em>tool</em>) yang saat ini dipercaya bisa mewujudkannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adanya banyak kasus keracunan, baik yang diakibatkan oleh kelalaian maupun yang disengaja, membuat konsumen semakin tinggi tuntutannnya terhadap tersedianya pangan yang aman.  Tuntutan ini diarahkan kepada produsen.  Tuntutan ini akhirnya berkembang menjadi persyaratan dalam bentuk standar sistem manajemen keamanan yang harus diterapkan produsen pangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pelanggan juga mulai menjadikan sistem keamanan pangan sebagai salah satu kriteria untuk memilih suppliernya.  Bahkan, di beberapa negara, bukti pemenuhan terhadap persyaratan standar tertentu harus ditunjukkan oleh produsen jika ingin ”berjualan” di negara tersebut.  Standar-standar seperti BRC Global Standar dan IFS adalah contohnya.  Dengan demikian, sistem keamanan pangan menjadi salah satu faktor penting dalam perdagangan internasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Perjalanan Panjang Keamanan Pangan</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sejak diperkenalkannya berpuluh-puluh tahun yang lalu, sistem HACCP (Hazard Analysis &amp; Critical Control Point) tetap dipercaya sebagai dasar untuk menjamin pangan yang aman.  Dengan menganut 7 prinsip dan 12 langkah yang sudah sangat dikenal di kalangan industri pangan, HACCP menjadi jantung dariberbagai Sistem Manajemen Keamanan Pangan di dunia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sistem yang mengidentifikasi dan mengendalikan potensi bahaya keamanan pangan ini telah terbukti mampu meminimalisasi resiko bahaya biologi, fisik, dan kimia yang berpotensi timbul darimakanan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada perkembangannya, banyak organisasi di berbagai negara yang mengadopsi sistem HACCP dai Codex Alimentarius ini ke dalam bentuk standar yang mereka bangun, seperti beberapa contoh berikut:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>1.      </em></strong><strong><em><span style="text-decoration: underline;">BRC</span></em></strong><strong><em><span style="text-decoration: underline;"> Global Standard for Food Safety</span></em></strong></p>
<p>Standar ini diperkenalkan oleh British Retail Consortium (BRC) tahun 1998 untuk produsen makan yang memproduksi produk bermerk (<em>branded</em>) untuk di jual di market retail di UK.  Standar ini berisi persyaratan mengenai mutu, keamanan pangan, dan persyaratan operasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Standar ini sudah beberapa kali mengalami revisi, hingga terbitan terakhir yaitu BRC Global Standar for Food Safety issue 5.  Saat ini sedang dipersiapkan untuk diluncurkan terbitan ke-6 dariStandar ini yang akan mulai berlaku Januari 2012.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada versi 5, standar ini berisi persyaratan untuk :</p>
<ol start="1">
<ul>
<li>Komitmen Manajemen Senior dan Peningkatan Berkesinambungan</li>
<li>Rencana Keamanan Pangan – HACCP</li>
<li>Sistem Manajemen Mutu dan Keamanan Pangan</li>
<li>Standar Lokasi (Site)</li>
<li>Pengendalian Produk</li>
<li>Pengendalian Proses</li>
<li>Personal</li>
</ul>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di samping standar untuk industri pangan, juga diterbitkan BRC Global Standar for Packaging dan Packaging Materials, Consumer Products, dan Distribution.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>2.      </em></strong><strong><em><span style="text-decoration: underline;">IFS</span></em></strong><strong><em><span style="text-decoration: underline;"> (International Featured Standards)</span></em></strong></p>
<p>Anggota Asosiasi Retail Jerman (HDE), dan mitra bisnisnya dari Perancis (FCD) telah menyusun suatu standar mutu dan keamanan pangan yang dinamakan International Food Standard (IFS), yang sekarang disebut International Featured Standard.  Standar ini dibuat untuk memfokuskan beragam persyaratan dariindustri retail ke dalam satu standar.  IFS lebih banyak ditujukan kepada supplier produk makanan bermerk (<em>branded</em>) yang menjual produk ke Jerman dan Perancis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Standar IFS yang terkahir diterbitkan adalah IFS Food version 5, yang berisi 250 persyaratan, yang terbagi dalam 5 bagian :</p>
<ol start="2">
<ul>
<li>Tanggung Jawab Manajemen Senior</li>
<li>Sistem Manajemen Mutu</li>
<li>Pengelolaan Sumber Daya</li>
<li>Proses Produksi</li>
<li>Pengukuran, Analisis, dan Peningkatan</li>
</ul>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saat tulisan ini dibuat, IFS Food version 5 ini sedang ditinjau untuk diperbarui.  Versi 6 ditargetkan terbit pada tahun 2012.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>3.      </em></strong><strong><em><span style="text-decoration: underline;">SQF (Safe Quality Food)</span></em></strong></p>
<p>Standar Mutu dan Keamanan Pangan, SQF 2000 untuk manufacturing dan distributor, disusun oleh SQF Institute, sebuah divisi dari Food Marketing Institute, USA.  Standar ini ditujukan untuk diterapkan di semua industri yang terkait dengan pangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Standar ini dibagi menjadi 3 level, yaitu :</p>
<p>Level 1: Food Safety Fundamentals</p>
<p>Level 2: Certified HACCP Food Safety Plans</p>
<p>Level 3: Comprehensive Food Safety and Quality Management Systems</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada SQF 2000 Edisi ke 6, persyaratannya mencakup:</p>
<ol start="3">
<ul>
<li>Komitmen</li>
<li>Pengendalian Dokumen dan Catatan</li>
<li>Spesifikasi dan Pengembangan Produk</li>
<li>Penerapan Keamanan Pangan</li>
<li>Verifikasi</li>
<li>Identifikasi Produk, Mampu Telusur, Penarikan Produk (Withdrawal &amp; Recall)</li>
<li>Pengamanan Lokasi (Site Security)</li>
<li>Identity Preserved Food</li>
</ul>
</ol>
<p><strong><em>4.      </em></strong><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Dutch HACCP</span></em></strong></p>
<p>Requirement for a HACCP Based Food Safety System, yang dikenal juga dengan nama Dutch HACCP atau HACCP RvA (karena diakreditasi oleh Dutch Accreditation Council &#8211; RvA) disusun oleh National Board of Experts, Netherland.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada dasarmya, persyaratan dalam standar ini dapat diaplikasikan pada semua bisnis atau organisasi yang terkait dengan pangan.  Revisi terakhir saat ini untuk standar HACCP ini adalah revisi ke-3, yang berisi :</p>
<ol start="4">
<ul>
<li>Tanggung Jawab Manajemen</li>
<li>Informasi Produk</li>
<li>Informasi Proses</li>
<li>Pre-requisite Program</li>
<li>Analisis Bahaya</li>
<li>Tindakan Pengendalian</li>
<li>Parameter dan Batas Kritis</li>
<li>Pemantauan dan Pengukuran</li>
<li>Tindakan Koreksi</li>
<li>Validasi</li>
<li>Verifikasi</li>
<li>Dokumentasi dan Catatan</li>
</ul>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>5.      </em></strong><strong><em><span style="text-decoration: underline;">ISO 22000 (Food Safety Management System)</span></em></strong></p>
<p>Dengan tujuan untuk mengharmonisasi standar-standar sistem keamanan pangan yang ada dunia, maka International Organization for Standardization menerbitkan ISO 22000 pada bulan September tahun 2005.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Standar Internasional ini berisi persyaratan bagi organisasi/perusahaan dalam rantai suplai pangan agar dapat menunjukkan kemampuannya mengendalikan bahaya keamanan pangan untuk memastikan bahwa makanan yang dihasilkannya aman saat dikonsumsi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ISO 22000:2005 atau Food Safety Management System (Sistem Manajemen Keamanan Pangan) disusun darielemen-elemen yang telah dikenal sebelumnya. Ada4 elemen kunci ISO 22000, yaitu:</p>
<ol start="1">
<li>Komunikasi Interaktif</li>
<li>Pengelolaan Sistem</li>
<li>Prerequisite Program</li>
<li>Prinsip HACCP</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Karena standar ini berfokus hanya pada aspek keamanan pangan, maka di dalamnya tidak dibahas mengenai hal yang terkait mutu maupun aspek lainnya.  Adapun persyaratan di dalamnya mencakup:</p>
<ol start="5">
<ul>
<li>Sistem Manajemen Keamanan Pangan</li>
<li>Tanggung Jawab Manajemen</li>
<li>Manajemen Sumber Daya</li>
<li>Perencanaan dan Realisasi Produk</li>
<li>Validasi, Verifikasi, dan Peningkatan Sistem Manajemen Keamanan Pangan</li>
</ul>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>6.      </em></strong><strong><em><span style="text-decoration: underline;">FSSC 22000 (Food Safety System Certification)</span></em></strong></p>
<p>Prerequisite Program (PRP) adalah salah satu elemen kunci dalam Standar ISO 22000, namun persyaratan PRP di dalam Standar ISO 22000 masih sangatlah umum.  Untuk itu beberapa industri pangan multinasional besar di dunia, seperti Nestle, Kraft, Danone, dan Unilever merumuskan satu standar PRP yang lebih detil.  Standar tersebut dinamakanPAS220:2008, yang berisi persyaratan PRP bagi produsen pangan manufacturing.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada tahun 2009, International Organization for Standardization juga mengeluarkan persyaratan yang setara denganPAS220:2008, yaitu ISO/TS 22002-1:2009.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada tahun 2009, The Foundation for Food Safety Certification menyusun FSSC 22000 (Food Safety System Certification), suatu skema sertifikasi sistem manajemen keamanan pangan yang menggabungkan persyaratan ISO 22000:2005 danganPAS220:2008 (atau ISO/TS 22002-1:2009), dan ISO 22003 tentang persyaratan untuk lembaga audit.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>7.      </em></strong><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Standar Sistem Manajemen Keamanan Pangan Lain</span></em></strong></p>
<p>Selain standar-standar di atas, masih ada beberapa standar internasional lainnya.  Di samping itu terdapat juga standar yang dibuat dan digunakan secara internal oleh perusahaan-perusahaan pangan multinasional.  Sistem semacam ini dibuat untuk menyeragamkan penerapan sistem di seluruh anak perusahaan, maupun untuk keseragaman dalam melakukan audit ke supplier mereka secara global.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Standar Mana Yang Harus Dipilih Untuk Diterapkan?</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adanya sekian banyak standar sistem manajemen keamanan pangan di dunia tentunya bisa menimbulkan kebingungan tersendiri bagi industri yang akan menerapkan sebuah sistem manajemen keamanan pangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu bagaimana sebuah perusahan menentukan standar yang tepat untuk dijadikan acuan sistemnya?  Apakah harus diterapkan semua?  Apa yang menjadi kriteria pemilihan sebuah standar sistem manajemen untuk diterapkan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada dasarnya, semua dikembalikan ke tujuan masing-masing perusahaan.  Sistem yang pada dasarnya hanyalah sebuah alat, apapun standar acuannya.  Bermanfaat atau tidaknya sebuah alat ditentukan juga oleh cara penggunaannya dalam mencapai tujuan.  Beberapa hal berikut bisa membantu industri pangan Anda untuk mempertimbangkan sistem sistem manajemen mana yang akan diterapkan:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>kebutuhan internal</strong></p>
<p>Perusahaan yang ingin membenahi diri secara internal bisa menerapkan sistem manajemen, misalnya untuk kerapihan sistem dokumentasi, untuk meninjau dan memperbaharui alur proses aktivitas yang terkait dalam bisnisnya, untuk menjamin keamanan pangan bagi konsumennya bahkan sebelum ada permintaan darikonsumen atau pihak lain, untuk mendisiplinkan karyawan terhadap prosedur, dan lain-lain.  Dalam hal ini, dapat dipilih standar sistem manajemen yang memiliki isi persyaratan sesuai dengan kebutuhan internal tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>kebutuhan korporasi</strong></p>
<p>Sebuah perusahaan bisa jadi merupakan bagian dariperusahaan yang lebih besar, misalnya perusahaan multinasional yang memiliki beberapa lokasi di berbagai negara.  Di pusat, umumnya perusahaan semacam ini memiliki aturan yang harus diterapkan di semua cabangnya.  Aturan yang diterapkan bisa termasuk aturan mengenai sistem manajemen keamanan pangan.  Sebagai contoh, sebuah perusahaan pangan memiliki 10 pabrik di seluruh Indonesia, dan manajemen pusat menentukan ISO 22000:2005 sebagai standar yang dijadikan acuan untuk sistemnya.  Dengan demikian semua pabrik harus memilih standar ISO 22000 untuk diterapkan sebagai bagian darikebijakan manajemen.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>kebutuhan pelanggan</strong></p>
<p>Saat ini tuntutan pelanggan sudah beragam, salah satunya adalah tuntutan mengenai adanya sistem manajemen keamanan pangan untuk industri yang menjadi pemasok mereka.  Dalam kasus yang sering terjadi, pelanggan meminta suppliernya untuk menerapkan standar sistem tertentu agar bisa berbisnis dengan mereka.  Jika demikian, maka standar yang dipilih adalah yang sesuai dengan keinginan pelanggan tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>kebutuhan untuk memenuhi peraturan/perundangan</strong></p>
<p>Tiap negara memiliki peraturan yang berbeda, termasuk peraturan terkait dengan standar keamanan pangan yang harus diterapkan oleh industri yang ingin menjual produknya di negara tertentu.  Hal ini membuat perusahan yang ingin mengekspor produknya harus mempertimbangkan untuk menerapkan sistem berdasarkan standar yang dipersyaratkan oleh negara tujuan ekspornya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>sumber daya yang tersedia</strong></p>
<p>Hal lain yang bisa menjadi dasar pertimbangan adalah sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan yang ingin menerapkan sistem.  Jika kebutuhan internal, pelanggan, dan peraturan bisa dipenuhi oleh beberapa standar, dan sumber daya yang dimiliki terbatas (misalnya, sumberdaya manusia, infrastruktur, waktu, dll) bisa dipilih standar yang paling sesuai dengan sumberdaya yang tersedia.  Misalnya, dibanding menerapkan ISO 22000, beberapa perusahaan memilih menerapkan sistem HACCP yang mengacu kepada Codex Alimentarius karena sudah bisa diterima oleh pelanggannya, dan mengkonsumsi waktu lebih sedikit dalam menyusunnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>memilih standar yang memenuhi kriteria GFSI</strong></p>
<p>GFSI (Global Food Safety Initiative) adalah organisasi non-pofit yang didirikan untuk mencapai perbaikan secara terus-menerus terhadap sistem keamanan pangan di dunia.  Adanya harmonisasi standar keamanan pangan di seluruh dunia akan meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam rantai suplai, mengurangi biaya dan menyediakan jaminan pangan yang aman bagi konsumen di seluruh dunia.  Untuk mencapai hal tersebut, GFSI melakukan pembandingan (benchmarking) antar berbagai standar keamanan pangan.  Hanya standar yang memenuhi kriteria tertentu yang diakui oleh GFSI.  Saat ini, standar yang sudah diakui oleh GFSI adalah sebagai berikut :</p>
<ol start="6">
<ul>
<li>BRCGlobal Standard Version 5</li>
<li>Dutch HACCP</li>
<li>FSSC 22000</li>
<li>Global AquacultureAllianceBAPIssue 2 (GAA Seafood Processing Standard)</li>
<li>Global Red Meat Standard Version 3</li>
<li>International Food Standard Version 5</li>
<li>SQF 2000 Level 2</li>
<li>Synergy 22000</li>
</ul>
</ol>
<p>Standar-standar tersebut bisa menjadi pilihan yang kemungkinan lebih banyak diterima oleh pelanggan, karena pengakuan dariGFSI.  GFSI juga masih terus melakukan benchmarking untuk standar-standar baru lain yang mendaftarkan diri agar diakui oleh GFSI.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terlepas dari sekompleks apapun standar yang dipilih untuk diterapkan, perlu diingat bahwa hal-hal mendasar harus tetap dijaga implementasinya.  Pelaksanaan aktifitas Prerequisite Program seperti hygiene, sanitasi, housekeeping, pest control, maintenance, dan lain-lain perlu dipelihara konsistensinya.  Ini jauh lebih penting dibanding mengadopsi standar yang sangat kompleks tetapi tidak konsisten dalam penerapan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain itu, adanya isu-isu global terkait keamanan pangan juga mempengaruhi penyusunan sistem manajemen keamanan pangan, baik dari sisi PRP maupun analisis bahaya, apapun standar yang dipilih.  Sebelum terjadi kasus susu mengandung melamin, tidak ada pengendalian yang ditetapkan untuk mencegah kontaminasi melamin pada susu.  Namun setelah kejadian itu, banyak pelanggan yang meminta jaminan dari suppliernya terkait hal tersebut.  Dengan kata lain, apapun standar acuannya, sistem yang diterapkan perlu selalu di<em>update</em> seiring terjadinya kasus-kasus keamanan pangan yang berpengaruh secara global.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hal lain yang juga sangat penting untuk memelihara sistem yang telah dibangun adalah audit, baik audit internal maupun eksternal.  Salah satu cara untuk mendapatkan hasil audit yang lebih baik adalah dengan menggunakan penilaian audit dengan angka (<em>scoring</em>), sehingga didapatkan :</p>
<ul>
<li>hasil audit yang terukur</li>
<li>pemahaman mengenai posisi sistem yang sudah diterapkan dibanding dengan standar</li>
<li>dasar untuk mengambil keputusan terkait sistem keamanan pangan</li>
<li>gambaran mengenai area yang membutuhkan peningkatan (<em>improvement</em>)</li>
<li>pembandingan (<em>benchmarking</em>) dengan hasil audit sebelumnya atau dengan industri sejenis</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Masa Depan Sistem Manajemen Keamanan Pangan</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saat ini, terutama di Indonesia, masih banyak perusahaan yang belum memiliki sistem yang bisa menjamin keamanan pangan bagi konsumennya.  Beberapa industri pangan sudah menerapkan dan bersertifikasi untuk menjadikan ini sebagai keunggulan dibanding para kompetitor yang belum menerapkan sistem.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perusahaan yang mapan sudah melihat lebih jauh ke depan.  Bagi mereka keamanan pangan bukan lagi menjadi keunggulan kompetitif, tetapi sudah menjadi bagian yang harus ada dalam sebuah industri pangan, karena kepedulian terhadap konsumen/pelanggannya sudah sedemikian tinggi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Intinya, di masa yang akan datang, selayaknya konsumen tidak perlu mempertanyakan lagi apakah produk yang dikonsumsinya diproduksi oleh perusahaan yang menjamin keamanan pangan atau tidak.  Sistem manajemen keamanan pangan seharusnya menjadi syarat beroperasinya sebuah industri pangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara itu, standar diperbaharui terus menerus seiring perkembangan, termasuk perkembangan adanya kasus-kasus yang terjadi, terutama secara global.  Adanya organisasi semacam GFSI membantu menyelaraskan standar-standar dan membuat pemilihan standar sistem manajemen keamanan pangan menjadi lebih mudah, serta membuat konsumen dan pelanggan menjadi semakin yakin akan standar yang diterapkan oleh suppliernya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://foodsafety-quality.com/fsq-articles/perkembangan-sistem-manajemen-keamanan-pangan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Food Safety Problem is a Global Issue</title>
		<link>http://foodsafety-quality.com/fsq-articles/food-safety-problem-is-a-global-issue.html</link>
		<comments>http://foodsafety-quality.com/fsq-articles/food-safety-problem-is-a-global-issue.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jun 2011 03:07:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anas Fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[FSQ Articles]]></category>
		<category><![CDATA[food safety]]></category>
		<category><![CDATA[food safety quality]]></category>
		<category><![CDATA[fsq]]></category>
		<category><![CDATA[keamanan pangan]]></category>
		<category><![CDATA[konsumsi]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[safety]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://foodsafety-quality.com/?p=737</guid>
		<description><![CDATA[by Ho Chi-Ping In the past, gegraphic boundaris strictly framed a country. The internal affairs of one country, at that time, had little influence on other countries, even the neighboring ones. Therefore, incidents of food safety only affected and spread wiyhin the country, one city, one island, or one village. However, with globalization, good and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>by Ho Chi-Ping</em></p>
<p style="text-align: justify;">In the  past, gegraphic boundaris strictly framed a country. The internal  affairs of one country, at that time, had little influence on other  countries, even the neighboring ones. Therefore, incidents of <a href="../" target="_blank">food safety</a> only affected and spread wiyhin the country, one city, one island, or  one village. However, with globalization, good and produtcts can almost  flow freely betwen countries, regions, and continents. So the <a href="../" target="_blank">food safety</a> problem is therefore no longer a national or regional issue, but rather a global one.<img title="More..." src="http://www.premysisconsulting.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span id="more-737"></span></p>
<p style="text-align: justify;">In  1997, Avian Influenza caused widespread panic in Hong Kong. It is said  that the Avian Influenza originated from Shenzhen. At first some chicken  in Shenzhen&#8217;s chicken farms died of H5N1, and the virus even infected  human being. The epidemic took a dramatic turn for the worse when six  people suspected to have been infected with H5N1 died from the disease.  This incited no small amount of resentment amongst some Hong Kong people  who blamed the chicken farm staff on the mainland for the outbreak. The  staff was accoused of not thoroughly checking the health condition of  the chicks under their care. It provoked Hong Kong people&#8217;s anger  towards chicken farm staff in Shenzhen, whose alleged negligence  contributed to the later spread of Avian Influenza in Hong Kong.</p>
<p style="text-align: justify;">The 2008 Chinese milk scandal was another <a href="../" target="_blank">food safety</a> incident. It involved infant formula, and other food stuff adulterated  with melamine. The incident almost coused a global panic, since the  adulterated products were not only sold in the mainland, but also  exported to overseas markets, including Hong Kong. Again, some Hong Kong  citizens put the blame on the mainland authotities concerned. The  melamine-tainted milk products eventually affected people all over the  world.</p>
<p style="text-align: justify;">Thus,  whenever the subject of &#8220;adulterated food&#8221; crops up, many people would  immediately associate it with the Chinese mainland. But the recent scare  over food adulterated with industrial plasticizer may break this  unfortunate stereotype. Recently, this harmful chemical has been  detected in some beverages produced in Taiwan, causing health concerns  among consumers in regions where Taiwanese beverage are quite popular.  This occurred despite the fact that Taiwan boasts one of the most  stringent <a href="../" target="_blank">food safety</a> regimens. The Plasticizer has since been detected in some Hong Kong food and medicines as well.</p>
<p style="text-align: justify;">Worse  still, in Germany, people have been warned not to eat cucumbers until  tests can identify the source of the deadly E. coli outbreak. This  outbreak is particularly nasty as young women have been struck down,  suffering from symptoms including stomach cramps and<br />
severe diarrhea. The scare has spread across Europe, with 16 people so  far having been killed. In many people&#8217;s minds, European countries have  the strictest standards and checking procedures on their <a href="../" target="_blank">food safety</a>. But the E. coli cucumber incident brought home the reality that it was not an effective defense against such as outbreak.</p>
<p style="text-align: justify;">These diverse <a href="../" target="_blank">food safety</a> issues from various parts of the world are ample evidence that food safety is not an endemic Chinese problem. In fact, <a href="../" target="_blank">food safety</a> is not even directly related to the development level of a place,  thanks, no doubt, to the connectivity of our age. If we do not maintain  our vigilance, people&#8217;s confidence in food safety can be shattered  instantly &#8211; even in a developed country.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>The author is former secretary for home affairs of the Hong Kong SAR government.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://foodsafety-quality.com/fsq-articles/food-safety-problem-is-a-global-issue.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Allergen,…? Alergi gara-gara habis makan,…?</title>
		<link>http://foodsafety-quality.com/fsq-articles/allergen%e2%80%a6-alergi-gara-gara-habis-makan%e2%80%a6.html</link>
		<comments>http://foodsafety-quality.com/fsq-articles/allergen%e2%80%a6-alergi-gara-gara-habis-makan%e2%80%a6.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 03:41:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>D.R. Tirtasujana</dc:creator>
				<category><![CDATA[FSQ Articles]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://foodsafety-quality.com/?p=637</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana Cara pengendalian Allergen di “Food Service”…? by Ragil K Syamadi Beberapa  makanan  atau  komposisi  makanan  dapat  menimbulkan  beberapa  reaksi  yang  sangat  sensitive  terhadap  siapapun  dalam  jumlah  yang  sangat  kecil.  Detail  dari  beberapa  produk  pangan  yang  mengandung/merupakan  bahan  allergen  dapat  di  dilihat  pada  tabel berikutnya.  Khusus  dalam  tebel  tersebut  berisi  jenis  produk  pangan,  atau  komposisi  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bagaimana Cara pengendalian Allergen di “Food Service”…? </strong></p>
<p><em>by Ragil K Syamadi</em></p>
<p>Beberapa  makanan  atau  komposisi  makanan  dapat  menimbulkan  beberapa  reaksi  yang  sangat  sensitive  terhadap  siapapun  dalam  jumlah  yang  sangat  kecil.  Detail  dari  beberapa  produk  pangan  yang  mengandung/merupakan  bahan  allergen  dapat  di  dilihat  pada  tabel berikutnya.  Khusus  dalam  tebel  tersebut  berisi  jenis  produk  pangan,  atau  komposisi  bahan pangan,  yang  diketahui  dapat  menghasilkan  reaksi  yang  mengancam  kehidupan  orang  yang sensitive terhadap bahan allergen tertentu.<span id="more-637"></span></p>
<p>Perusahaan atau pengolah produk pangan harus mempunyai program yang efektif untuk mengevaluasi, mengidentifikasi dan mengendalikan semua bentuk produk pangan yang berasal dari  bahan  allergen,  guna  memastikan  bahwa  bahan  allergen  tersebut  tidak  bercampur  ke dalam  produk  yang  tidak  mengandung  komposisi  bahan  yang  dinyatakan  dalam  label  atau informasi ke pelanggan (daftar menu/ komposisi produk).</p>
<p>Pengendalian Allergen di perusahaan dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya (terutama di food service) adalah dengan cara mengkomunikasikan kemungkinan adanya bahan allergen baik yang berasal dari produk tersebut atapun dari peralatan proses lainnya, sehingga penilaian atau cleaning matrix allergen tidak diperlukan.</p>
<p>Sumber-sumber  penyebab  alergi  (bahan  baku/komposisi,  langkah-langkah  proses, alat/bahan pembantu proses, pengerjaan ulang, bahan bawaan (carryover) saat proses (karena tahapan pengolahan) harus dapat digambarkan dalam bentuk komunikasi yang diinformasikan ke pelanggan. Komunikasi ini dibuat dalam bentuk poster atau sejenisnya atau daftar komposisi dalam menu yang diinformasikan ke pelanggan. Bentuk komunikasi tersebut, contohnya :</p>
<p>Produk kami dibuat dengan Bahan-bahan berkualitas, dengan bahan dasar berupa : Beras, Mie, Tepung Terigu/ Gandum, Telur, Minyak, Garam, Gula dan bahan tambahan berupa :  Sayuran dan Daging Segar, Ikan,  Keju, Wijen,   sesuai dengan standar resep masing-masing produk.</p>
<p>Atau :</p>
<p>Produk yang kami hasilnya diproduksi di peralatan yang juga memproduksi produk yang mengandung : Tepung Terigu/ Gandum, Telur, Ikan, Keju, Wijen. Allergen  yang  tidak  dapat  dihindari,  biasanya  terjadi  melalui  kontak  silang,  termasuk carryover  product.  Hal  ini  tidak  dapat  dihindari  melalui  pemisahan  tahapan  proses dan mekanisme pembersihan (cleaning)  yang  disebabkan  oleh  keterbatasan  teknis  (sifat  dari produk, design proses) yang ada dalam produk  yang  dijual  (oleh  supplier)  ke  perusahaan, sehingga harus diidentifikasi dan di-label  (dikomunikasikan)  secara  benar.  Hal  ini  harus diinformasikan kepada perusahaan agar dapat  ditangani/  diberi  identitas  khusus  (label)  pada  produk saat digunakan.</p>
<p>Daftar Kategori Makanan yang Dapat Menimbulkan Alergi :</p>
<p>Bahan-bahan  dibawah  ini  mungkin  sangat  berpotensi,  mengancam  jiwa,  serta  menimbulkan reaksi pada orang-orang yang sensitif.</p>
<p><strong> </strong></p>
<table border="1" cellspacing="1" cellpadding="5">
<tbody>
<tr style="text-align: center;">
<td width="136" valign="top"><strong>Kategori Bahan</strong><br />
<strong>Produk Pangan</strong><br />
<strong>Allergen</strong></td>
<td width="150" valign="top"><strong>Daftar Ingredien atau</strong><br />
<strong>produk pangan</strong><br />
<strong>(namun tidak terbatas</strong><br />
<strong>pada)</strong><br />
<strong> </strong></td>
<td width="150" valign="top"><strong>Contoh produk</strong><br />
<strong>pangan yang</strong><br />
<strong>sering</strong><br />
<strong>mengandung</strong><br />
<strong>bahan allergen</strong></td>
<td width="178" valign="top"><strong>Pengecualian</strong><br />
<strong>(hanya yang tercantum</strong><br />
<strong>dalam daftar ini)</strong><br />
<strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top">Seledri</td>
<td width="150" valign="top">Umbi, daun atau batang</td>
<td width="150" valign="top"></td>
<td width="178" valign="top">biji</td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top">Telur</td>
<td width="150" valign="top">Ovalbumin, telur utuh, kuning telur, putih telur, lysozyme, protein   telur terhidrolisa</td>
<td width="150" valign="top">Mayonnaise, meringue (putih telur dan gula)</td>
<td width="178" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top">Susu Sapi</td>
<td width="150" valign="top">mentega, lemak susu, kasein, keju, keju lembut, curds, whey,</p>
<p>lactoglobulin, lactose*, susu bubuk, cream, sodium caseinate,   susu asam, yoghurt, protein susu terhidrolisa</p>
<p>(*Hanya jika mengandung protein)</td>
<td width="150" valign="top">Margarin, susu coklat, es krim, custard, nougat</p>
<p>pudding</td>
<td width="178" valign="top">Lactose dan lactitol yang tidak mengandung protein (syaratnya harus   menunjukan proses untuk menghilankan proteinnya)</td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top">Kacang</td>
<td width="150" valign="top">Selai kacang, kacang-kacangan, tepung kacang, protein kacang,</p>
<p>protein kacang terhidrolisa</td>
<td width="150" valign="top">Mixed nuts</td>
<td width="178" valign="top">RBD peanut oil dan turunannya (hydrogenated oils)</td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top">Kacang Kedelai</td>
<td width="150" valign="top">Protein yang bersumber dari soya, miso, tahu, protein kedelai terhidrolisa.</td>
<td width="150" valign="top"></td>
<td width="178" valign="top">Lecitin Kedelai; RBD Soybean Oil dan turunannya  (hydrogenated oils).</td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top">Sulfit +</td>
<td width="150" valign="top">Sodium bisulphite, sodium</p>
<p>metabisulphite, sulphur dioxide.</td>
<td width="150" valign="top">Minuman Anggur,</p>
<p>Produk buah kering,</p>
<p>kentang olahan, sayuran kering.</td>
<td width="178" valign="top">Kurang dari 30ppm dalam bentuk sulphur dioxide dalam produk pangan   yang dikonsumsi; peraturan perundangan yang berlaku harus diutamakan, sebagai   contoh di Amerika Serikat mensyaratkan kurang dari</p>
<p>10ppm.</td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top">Gandum</td>
<td width="150" valign="top">Wheat derived bran, cereal extracts, dextrin, meal, farina, tepung   graham, tepung malt,</p>
<p>germ, gluten, tepung pati</p>
<p>termasuk pati termodifikasi secara kimiawi atau enzimatis/</p>
<p>asam, semolina, protein</p>
<p>gandum terhidrilisa.</td>
<td width="150" valign="top">Remahan Roti</p>
<p>(Breadcrumbs), kreker, roti, pasta.</td>
<td width="178" valign="top">Wheat derived glucose, glucose syrup, dextrose, dextrose monohydrate,   maltodextrin (all DEs), sugar alcohols, dan caramelized glucose. RBD wheat   germ oil dan turunannya (hydrogenated oils).</td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top">Biji-bijian:</p>
<p>Biji kapas</p>
<p>Biji Bunga Poppy</p>
<p>Biji wijen</p>
<p>Biji bunga matahari</td>
<td width="150" valign="top">Setiap bijian-bijian dalam daftar kategori ini harus</p>
<p>dipertimbangkan sebagai</p>
<p>bahan allergen yang berbeda.</td>
<td width="150" valign="top"></td>
<td width="178" valign="top">RBD oils dari Biji Kapas, Biji Wijen atau Biji Bunga Matahari   dan turunannya (hydrogenated oils)</td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top">Makanan Laut</p>
<p>(Seafood)</td>
<td width="150" valign="top">Udang, kepiting, moluska, ikan; setiap bahan produk laut dalam</p>
<p>daftar kategori ini harus</p>
<p>dipertimbangkan sebagai</p>
<p>bahan allergen yang berbeda.</td>
<td width="150" valign="top"></td>
<td width="178" valign="top">Tuna, gelatin dari tulang ikan,</p>
<p>Worcestershire sauce yang</p>
<p>mengandung anchovy paste. RBD fish oil dan turunannya</p>
<p>(hydrogenated oils).</td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top"><span style="text-decoration: underline;">Treenuts </span></p>
<p>Almond, Brazil Nut, Kacang Mede, Chestnut</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Hazelnut </span></p>
<p>(Filbert) Macadamia Nut Pine Nuts Pistachio Pecan Walnut</td>
<td width="150" valign="top">Setiap produk kacang-kacangan dalam daftar kategori ini harus</p>
<p>dipertimbangkan sebagai</p>
<p>bahan allergen yang berbeda.</td>
<td width="150" valign="top">Mixed nuts</p>
<p>Beberapa produk</p>
<p>coklat</td>
<td width="178" valign="top">RBD oil dari semua treenuts dan turunannya (hydrogenated oils).</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>+  Sulfit  bukanlah  bahan  allergen  sesungguhnya,  namun  bahan  tersebut  memungkinkan  timbulnya  reaksi  yang mengancam jiwa.</p>
<p><a href="http://foodsafety-quality.com/wp-content/uploads/2011/05/Allergen-in-Food-Service-Premysis-Consulting-2011.pdf">Allergen in Food Service [Premysis Consulting, 2011]</a></p>
<p>Daftar  bahan-bahan  allergen  tersebut  di  atas,  jarang  mengalami  perubahan  yang  berarti, namun  penambahan  atau  penghilangan  dari  daftar  tersebut  dapat  terjadi  pada  saat  terdapat bukti  baru.  Daftar  kategori  Allergen  bahan  pangan  tersebut  sejalan  dengan  daftar-daftar Allergen pada British Retail Consortium dan/atau Codex.</p>
<p><strong>Public Training [Premysis Consulting]</strong></p>
<p>Bagaimana  membuat  “Dokumentasi  HACCP” mulai  dari  5  langkah  awal  hingga  ke  7  prinsip HACCP untuk “Food Service Industry”…?</p>
<p>(Anda akan diajarkan “Step by Step” secara teknis bagaimana hingga akhirnya Anda mampu membuat Dokumentasi HACCP, dan Anda juga akan diajarkan terkait dengan “12 Common Mistakes in Developing HACCP Documentation)</p>
<p>[ 2 Hari Pelatihan (full day) ]</p>
<p>Untuk keterangan lebih lanjut (special offer), segera hubungi Fera/ Haryati (021) 576-2727</p>
<p>e-Mail  : publictraining@premysisconsulting.com</p>
<p>Twitter : @PremysisCons</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://foodsafety-quality.com/fsq-articles/allergen%e2%80%a6-alergi-gara-gara-habis-makan%e2%80%a6.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

